Tingkat Kecelakaan Kerja di Perusahaan Indonesia Tinggi

SRIPOKU.COM
Ir Aji Ibrahim, instruktur Ahli K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) didampingi Kacab PT Sucofindo (Super Intending Company of Indonesia) Persero Palembang Joni Ardi Hamidhan, Direktur Pelayanan dan Pengaduan BPJS Ketenagakerjaan Achmad Riyadi, dan Kepala Kanwil BPJS Ketenagakerjaan Sumbagsel Adjat Sudrajat pada pembukaan pembekalan Ahli K3, Sabtu (30/8/2014), di Hotel Novotel Palembang.

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – BPJS Ketenagakerjaan bekerjasama dengan PT Sucofindo (Super Intending Company of Indonesia) Persero menggelar pembekalan bagi ahli K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) berbagai perusahaan di Sumsel 30 Agustus -8 September 2014 di Hotel Novotel Palembang.

Ir Aji Ibrahim, instruktur Ahli K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) didampingi Kacab PT Sucofindo (Super Intending Company of Indonesia) Persero Palembang Joni Ardi Hamidhan, Direktur Pelayanan dan Pengaduan BPJS Ketenagakerjaan Achmad Riyadi, dan Kepala Kanwil BPJS Ketenagakerjaan Sumbagsel Adjat Sudrajat mengatakan digelarnya kegiatan ini mengingat pentingnya untuk menekan tingkat kecelakaan, keselamatan kerja.

Menurut Aji, tingkat kecelakaan kerja di perusahaan Indonesia cukup tinggi dibandingkan negara yang sudah maju. Penyebabnya itu antara lain, kesadaran akan keselamatan kerja masih rendah. Baik itu di level manajemen, maupun di pekerjanya. Sehingga dibutuhkanlah orang-orang yang ahli keselamatan di masing-masing perusahaan.

“Diharapkan dengan adanya ahli ini, bisa mengingatkan manajemen, pekerja akan keselamatan pekerja. Kalau sudah aware, diharapkan bisa menekan tingkat kecelakaan,” ujar Aji Ibrahim yang juga Konsultan Keselamatan Kerja PT Sucofindo (Super Intending Company of Indonesia) Persero, Sabtu (30/8/2014).

Ditekankan Aji yang alumni Sarjana Kehutan IPB, di dalam organisasi di dalam peraturan Kemenaker, di perusahaan harus ada Panitia Pembina K3 (P2 K3). Itu diketuai pimpinan tertinggi di perusahaan itu. Sekretarisnya harus dari ahli K3 yang sekarang diikuti, anggotanya dari perwakilan para pekerja.

Setiap periodik harus ada perencanaan kerja, melakukan identifikasi bahaya di setiap pekerjaan. Kalau sudah teridentifikasi, harus dikendalikan dengan berbagai cara. Ada yang dibuat aturan, ada disediakan alat pelindung diri. Mereka setelah itu, memonitor perencanaan keselamatan kerja tadi. Misal alat pelindung diri tadi dipakai nggak. Ia harus memastikan. Kalau tidak dipakai harus ditegur

Selain itu juga penyakit akibat kerja. Misal duduk depan komputer ada radiasi. Harus dilakukan medical checkup. Sesuai dengan potensi bahaya kerjannya. Setiap periodik dicek. Kalau ada batasan tertentu bisa memproduksi anak.

Sebanyak 22 peserta dari pabrik semen baturaja, kelapa sawit, kebun, rumah sakit, HTI, Pusri, Indoofood mengikuti pelatihan ahli K3 yang berlangsung selama 10 hari. Silabusnya ada 120 jam. 30 Agustus -8 September 2014 di Hotel Novotel Palembang.

“Karena ini persyaratan Menaker. Di setiap perusahaan harus punya P2 K3. Mereka kepanjangan tangan dari ahli-ahli K3 dari Kemenaker, pengawas pemerintah,” kata pria kelahiran Kuningan Jawa Barat, 8 Mei 1966.

Sucofindo melaksanakan karena kerjasama dengan BPJSKetenagakerjaan. Ada manfaat tambahan bagi perusahaan yang sudah terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan. Sucofindo merupakan jasa keselamatan dan kesehatan kerja yang ditunjuk Kemenaker