Pekerja Yang Tidak Mematuhi Anjuran Keselamatan Kerja Salah Sendiri

 SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Pemerintah Kota Palembang melalui, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker)  menghimbau kepada pekerja dan seluruh perusahaan untuk perhatikan dan mengutamakan keselamatam dalam bekerja yang beresiko kecelakaan.

Kepala Disnaker Palembang, Gunawan mengatakan, untuk mengurangi resiko kecelakaan. Maka, para pekerja diharuskan melengkapi diri  dengan alat-alat keselamatan kerja, seperti sepatu, sarung tangan, masker atau dalam bentuk lainnya seperti tali pengaman bagi pekerjaan posisi ketinggian dan lainnya.”Saat ini, kami menilai kesadaran pekerja masih sangat rendah dalam menerapkan budaya kerja yang memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja. Misalnya pekerjaan yang sedang digarap saat ini Jembatan Ampera, banyak pekerja yang tidak menggunakan tali pengaman, padahal Jembatan Ampera tinggi. Apabila terjadi kecelakaan, bukan tidak mungkin langsung meninggal, nah hal tersebut harus diwaspadai,” ujarnya, Selasa (27/5).

Menurut Gunawan, banyak pekerja yang sudah biasa melakukan pekerjaan dan merasa tidak memerlukan alat pengeman lagi, padahal itu salah. Karena didalam Undang-undang 1970 tentang keselamatan kerja, wajib menggunakan pengaman.

“Walaupun sudah sehebat apapun dalam sebuah pekerjaan, harus tetap menggunakan alat keselamatan kerja, karena yang namanya kecelakaan itu, tidak bisa ditentukan kapan akan datang,” ujarnya.

Gunawan menyebutkan, saat ini pihaknya hanya memiliki tim pengawas berjumlah 8 orang, oleh sebab itu, pihaknya mengajak seluruh perusahaan, baik BUMN, BUMD, maupun swasta untuk ikut mensosialisasikan budaya keselamatan kerja bagi pekerja.

“Tidak mungkin dengan jumlah pengawas 8 orang, kami melakukan pengawasan di semua perusahaan yang ada di Palembang, jadi kami harapkan kesadaran perusahaan untuk memberikan penyuluhan bagi pegawainya sendiri,” ujarnya.

Ditanya soal adakah asuransi bagi pekerja yang mengalami kecelakaan, Gunawan menjawab, sudah menjadi kewajiban perusahaan untuk memberikan jaminan kesehatan, maupun jaminan kecelaan kerja bagi pegawai.

“Tapi, perusahaan bisa tidak memberikan asuransi kecelakaan kerja, apabila kecelakaan tersebut dilakukan oleh pekerja itu sendiri, misalnya, sudah dihimbau menggunakan pengaman, tapi tidak dipakai, nah yang seperti itu, biasanya tidak mendapat asuransi, itulah yang menjadi kerugian pekerja, jika tidak memenuhi aturan keselamatan,” ujarnya.

Gunawan menambahkan, berdasarkan catatan pihaknya selama tahun 2014 ini, sudah ada 3 kecelakaan kerja dan itu seluruhnya dari RS Charitas, tapi bukan kematian, melainkan kecelakaan ringan dari perawat seperti luka kena alat medis,” ujarnya.

 

Penulis: Siti Olisa
Editor: Tarso